Ponsel Lebih Peduli Lingkungan Ketimbang PC

DUNIA terancam pencemaran sampah elektronik tidak hanya dari PC (personal computer) bekas, juga dari ponsel bekas. Namun, terkait tingkat kepedulian lingkungan, kelompok perlindungan lingkungan hidup Greenpeace menilai, para produsen ponsel meraih skor sedikit lebih baik daripada para produsen PC.

Di antara para produsen ponsel utama di dunia, Greenpeace menilai, produsen ponsel yang paling ramah lingkungan saat ini adalah produsen ponsel terbesar di dunia, Nokia Corp. Greenpeace menyebutkan, Nokia mampu meraih skor 7,5,dari skor tertinggi 10,0 dalam survei Greenpeace. Greenpeace mengatakan, Nokia mampu meraih skor sangat tinggi karena memiliki komitmen kuat dalam menghapus penggunaan kimia berbahaya dari produk-produknya.

Di samping itu, Greenpeace menambahkan, Nokia juga memiliki komitmen besar untuk memangkas 30 persen emisi CO2 (karbon dioksida) hingga 2020. Faktor lain yang melambungkan nilai Nokia, Greenpeace menyebutkan, adalah agresivitas Nokia dalam menyelenggarakan program daur ulang ponsel. Greenpeace mengamati, saat ini Nokia telah menyelenggarakan program daur ulang di 85 negara, dengan lebih dari 5.000 titik pengumpulan sampah elektronik berupa ponsel bekas dan aksesori yang tidak terpakai lagi.

Setelah Nokia, Greenpeace mengungkapkan, produsen ponsel lain yang paling ramah lingkungan adalah Sony Ericsson Mobile Communications AB, yang meraih skor 6,9, dari skor tertinggi 10,0.Greenpeace menyebutkan, Sony Ericsson mampu meraih skor tinggi karena aktif menghapus penggunaan kimia berbahaya dari produknya. Di samping itu, Greenpeace menambahkan, Sony Ericsson memiliki komitmen kuat dalam memangkas konsumsi energi.

Namun, Greenpeace menegaskan, Sony Ericsson tidak mampu meraih skor maksimum karena lemah dalam upaya daur ulang ponsel bekas. Di bawah Sony Ericsson, Greenpeace mengungkapkan, produsen ponsel yang ramah lingkungan adalah Motorola Inc. Greenpeace menilai, Motorola mampu meraih skor 5,1, dari skor maksimum 10,0. Greenpeace menuturkan, Motorola mampu meraih nilai relatif bagus pada penghapusan penggunaan kimia berbahaya.

Namun begitu, Greenpeace menegaskan, Motorola ternyata kurang mendukung regulasi-regulasi penyelamatan kelestarian lingkungan hidup. Lebih dari itu, Motorola juga hanya mampu meraih nilai rendah dalam isu-isu daur ulang dan sampah elektronik. Terlepas dari segenap kekurangan Motorola, Greenpeace menyatakan, Motorola ternyata mampu meraih skor tinggi dalam upaya pemangkasan emisi CO2.

Sejak 1 November 2008 seluruh charger ponsel produksi Motorola susah memenuhi, atau bahkan melampaui, tuntutan standar lingkungan Energy Star v.2.0. Namun demikian, firma riset International Data Corp (IDC) menilai, industri ponsel ternyata belum terlalu peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup. IDC menegaskan, tingkat daur ulang ponsel bekas di dunia pada saat ini masih sangat rendah.

“Upaya daur ulang ponsel bekas sangat memprihatinkan karena para produsen ponsel sudah menganggap baik apabila mereka mampu mendaur ulang 10 persen saja dari volume ponsel bekas di dunia,” ujar Vice President Mobility & Telecom Program IDC Stephen Drake.

IDC mengatakan, sampah berupa ponsel bekas berisiko mencemari dan merusak kelestarian lingkungan hidup karena sebagian besar komponen ponsel dibuat dari materi anorganik, yang tidak dapat diurai secara alamiah oleh alam.

Di samping itu, material ponsel mengandung sejumlah bahan kimia berbahaya. Di antara para produsen utama ponsel di dunia, Greenpeace menambahkan, produsen yang meraih skor kepedulian lingkungan kurang dari 50 persen antara lain LG Electronics Inc. Greenpeace mengatakan, LG hanya mampu meraih skor 4,7,dari skor tertinggi 10,0. (Koran SI/ Ahmad Fauzi) (srn)


Profil BSC Rental Komputer |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *